Ruang seni ramah anak menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi kalangan yang sudah berkeluarga. Ruang seni ramah anak sangat dibutuhkan untuk mendorong rasa aman dan nyaman, sehingga membuat orang tua sendiri tidak khawatir ketika bermain dengan anak mereka. Ruang-ruang seperti ini juga memiliki persn untuk mendukung tumbuhnya imajinasi anak-anak. Berikut ruang artsy ramah anak di Yogyakarta dan sekitarnya.
Yogyakarta adalah tanah subur menjamurnya ruang-ruang nongkrong untuk mengakomodasi kebutuhan anak muda hari ini. Banyaknya mahasiswa di Kota Pelajar menjadi peluang tersendiri bagi para pengusaha, di lain sisi mahasiswa dan anak muda lainnya membutuhkan tempat-tempat nongkrong untuk mengerjakan tugas maupun sekadar hangout. Berikut rekomendasi tempat nongkrong berupa mini bar, creative space dan ruang kolaboratif di Yogyakarta:
Pergeseran sebuah masa hingga budaya dapat terindikasi dari karya-karya seni, terutama dari para seniman muda. Mereka bukan sekadar mengikuti arus, atau bahkan terbawa arus, justru mereka menunggangi arus yang dapat membawanya pada destinasi baru yang entah kapan sampainya. Siasat, strategi, hingga bahkan jurus mereka rakit dan rancang sebagai upaya eksis di derasnya arus zaman. Mereka yang berhasil "terlihat" tentu adalah orang yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungannya. Sulit disangkal, bahwa jika tidak cerdik menempatkan diri di sebuah jiwa zaman akan tergilas begitu saja, tanpa sisa untuk dikenang.
Toko buku independen adalah hub interaksi pelaku kreatif lintas praktik seni dan budaya di Yogyakarta hari ini. Di ruang sosial ini gagasan dan informasi dipertukarkan, baik lewat teks literasi yang berpindah tangan maupun diskusi tongkrongan santai yang timbul di sekitarnya.
Arsitektur tanpa disadari perlahan dirayakan oleh anak muda hari ini yang telah menjadi generasi digital native. Keindahan bangunan menjadi pertimbangan nyata mereka ketika memilih tempat untuk menginap, makan, jalan-jalan, nongkrong, bahkan mungkin hingga urusan peribadahan. Keindahan arsitektur hari ini juga sangat dibutuhkan masyarakat untuk aktualisasi diri melalui foto-foto indah yang akan diunggah di Instagram.
Saudaraku semua yang terkasih, izinkan kami memulai esai pengantar untuk buku bunga rampai GAS! (Gugus Apresiasi Seni) tahun kedua ini dengan kesaksian atas perhelatan bertajuk: 'ARKIPELAGIS: Refleksi Kebudayaan,' pada Selasa, 28 Januari 2025. Saya bersaksi bahwa peristiwa ini digelar kurang lebih sembilan jam (08:00 - 17:00) dengan agenda utama diskusi roundtable melalui tiga sesi pemaparan tujuh orang pembicara kunci: Titah AW, Charles Toto, Prof. Premana W. Premadi, Afrizal Malna, Nia Dinata, Farah Wardani dan Prof. Bambang Sugiharto.
Galeri seni di Yogyakarta akhir-akhir ini menjadi destinasi wisata baru terutama bagi kaula muda. Kehadirannya semakin menyemarakkan keseruan liburan di kota Istimewa ini. Selain dikenal sebagai kota Gudeg, Yogyakarta merupakan salah satu pusat kesenian Indonesia, surganya anak muda yang haus estetika.
Warung skena anak muda di Yogyakarta adalah hidden gems yang sebenarnya. Bagaimana tidak, bagi mereka anak muda pemburu rasa dan suasana akan dibawa blusukan di gang-gangan kampung kota Yogyakarta untuk menyantap hidangan unik kombo autentik.
Jompet Kuswidananto dan Heri Pemad seperti pertemuan dua manusia berdaya imajinasi ke-ruang-an. Jompet dengan karyanya yang "menjadi ruang" dan Pemad yang berupaya "menghidupkan dan membahasakan ruang."
Berproses kreatif tidak melulu sendiri, seniman butuh wadah diskusi, eksperimen dan berjejaring melalui kolektif.
Jauh dari gemuruh hari raya seni, ada spot-spot alternatif yang tersembunyi, penting, dan menarik dikunjungi, serta tentu saja memiliki aspek seni budaya yang tinggi!
Terkadang kasur empuk, hospitality moncer, dan breakfast sempurna, tidak selalu cukup membuat pengunjung puas menginap di hotel. Menjadi artsy adalah jalan lain!
Lebaran seni di Jogja baru saja dimulai, tidak afdol rasanya kalau belum mengunjungi 7 pameran seni ini. Apakah salah satunya pameran yang ingin kamu kunjungi?
Peristiwa ARTJOG, oleh banyak orang, selalu dinantikan. Presentasinya setiap tahun mengundang banyak perhatian. Tahun ini, apakah yang spesial dan seru?
JAW akan menangkap lanskap kesibukan seni berlangsung selama 3 bulan ke depan. Mari kita simak, bagaimana keseruannya? Apa yang baru? Selamat merayakan, maafkan seni lahir dan batin.
Ipeh terlihat sangat ingin bercerita dalam karya-karyanya. Gambarnya memiliki kualitas ketakutan, ambivalensi, kegamangan yang suram dan menyimpan misteri.
Melalui buku ini pembaca dapat menemukan para penulis yang membentangkan tafsir bebas dan terbuka atas peristiwa-peristiwa penciptaan seni yang disajikan dalam Biennale Jogja Equator.
Dalam catatan perjalanannya ini, Urubingwaru mengisahkan bagaimana sebuah pameran seni digelar di pedesaan, di Lembana, Madura.
Nusamatra tidak hanya memberikan pengalaman artistik pada anak, tapi memposisikan anak sebagai manusia yang memiliki kecerdasan untuk memahami sosial, dan alam, melalui karya seni.
Hujan bulan Oktober ini baik, ia turun sambil membawa memori lama yang menguatkan dan mengingatkan, bahwa seni-senian tidak melulu seni rupa sesekali kembalilah berdrama dan main boneka.
Baru saja berlangsung ‘Simposium Khatulistiwa’ yang biasa menyertai BJE di tiap tahun genap. Simposium Khatulistiwa kali ke enam ini berlangsung pada 28 – 29 Oktober 2022 di Concert Hall Pascasarjana ISI Yogyakarta. Melalui tajuk “Kuat Akar, Kuat Tanah: Solidaritas Trans-Nasional dan Gerakan Trans-Global,” simposium ini diharapkan menjadi penutup rangkaian BJE putaran pertama (2011 – 2021) sekaligus menjembatani menuju putaran kedua di masa mendatang.
Keseriusan Ira melalui kekaryaannya sepanjang karir, utamanya di HONF dengan XXLab, hingga Mission X dan Weaving The Hope, tampaknya menawarkan sebuah preposisi artistik.
Ketegangan identitas dan kronik masa lalu terasa baur dan abu-abu. Jompet Kuswidananto tidak berdiri sebagai subjek tunggal seorang Jawa, dia adalah Jawa yang telah mengalami interaksi kultural dengan dunia yang besar.
Pameran Seni yang Sengaja Dipenjara menawarkan amukan membara melalui panggung Band-Band-an. Panggung berekspresi ini tidak lain adalah untuk membakar luapan emosi atas isu dan persoalan-persoalan yang tak kunjung selesai di negeri ini.
Kelas sosial, perlawanan dan pengkhianatan dalam lukisan bersejarah dibawa ke layar kaca bersama para komplotan amatir dan sang mastermind Angga Dwimas Sasongko.
Keseluruhan instalasi yang dikerjakan Riyan Kresnandi bersama MIVUBI dan Karen Hardini, membentang ingatan kita sekali lagi kalau kebebasan berpendapat adalah kebebasan yang nggak bebas-bebas banget.
Hanya dengan melihat dan merenungi karya-karya seni site-specific dari para seniman, dalam posisi yang mungkin didiami para danyang. Karya-karya 900 mdpl ibarat hantu yang kasat mata!
Karya-karya Suvi Wahyudianto tidak pernah selesai pada bentuk yang diam. Ketika melihat karyanya, penonton akan dibawa ke dalam banyak tafsir atas kenangan. Suvi merupakan penutur visual yang sentimentil.
ARTJOG 2022 sangat istimewa dengan partisipasi anak-anak, remaja dan seniman difabel. Bersamaan dengan Hari Anak Nasional, dihadirkan program "Exhibition Tour for Kids" bersama Eko Nugroho Art Class dan Rumah Ramah. Anak-anak diajak bermain, belajar dan apresiasi seni sejak dini.
Yogyakarta tidak pernah sepi dari kegiatan seni. Ada bulan-bulan tertentu, pekan-pekan tertentu, yang sengaja disiapkan, disambut dan dirayakan secara khusus oleh warga seni. Dari pojokkan situs, di sela kerumunan pengunjung pameran, pada bentang luas algoritma, kami menangkap lanskap!