ARTJOG, Seni Rupa dan Pameran Ramah Anak

Feature
03-Aug-2022
Oleh Ripase Nostanta

Kilas Balik Masa Lalu dan Viktor Lowenfeld 


23 Juli 2022 sembari disibukkan dengan berbagai acara seni yang tiada henti, saya diberi kesempatan mengikuti program exhibition tour for kids yang diselenggarakan oleh ARTJOG. Selama di perjalanan menggunakan ojek online, kurang lebih 15 menit menuju Jogja National Museum, teringat kenangan pernah menjadi bagian dari seni rupa anak, rasanya sulit untuk terlupa. Pada masa itu karya gambar anak-anak TK menjadi harapan utama saya untuk mendapat gelar sarjana. 


Sebentar kembali ke tahun 2016, ide meneliti karya gambar anak-anak kian mantap untuk menjadi judul skripsi. Meneliti tentang seni rupa dan anak-anak tentu bukan sesuatu yang baru bagi mahasiswa pendidikan seni rupa seperti saya. Segala hal dunia pendidikan seperti anak-anak, remaja, strategi belajar mengajar, micro teaching, perkembangan peserta didik, psikologi pendidikan, kurikulum, RPP, silabus sudah menjadi makananan sehari-hari, wajar saja karena lulusannya kebanyakan menjadi guru seni.


Setelah menyelesaikan semua urusan dan yakin dengan judul yang disetujui, akhirnya selama 3 bulan saya menghabiskan waktu berkutat  dengan penelitian berjudul “Analisis Gambar Ekspresi dengan Media Pensil Warna Ditinjau dari Kecenderungan Objek dan Kesesuaian Terhadap Teori Perkembangan Anak” pun muncul. Dari judulnya saja, saya sudah lumayan pusing tujuh keliling, apalagi hampir setiap hari berurusan dengan buku Viktor Lowenfeld yang berjudul Creative and Mental Growth yang menjadi kitab utamanya.


Selama tiga bulan penelitian, saya menjadi lebih dekat dengan dunia anak-anak, bagaimana sebuah karya rupa anak ternyata tidak kalah penting untuk tumbuh kembangnya. Hal ini juga disebutkan Lowenfeld dalam beberapa kelompok perkembangan seni rupa anak yaitu Masa Coreng-moreng (2-4 tahun) , Pra-bagan (4-7 tahun), Bagan (7-9 tahun),  Permulaan Realisme (9-11 tahun), Naturalistik Semu (Usia 11-13 tahun) dan Krisis Puber (13-17 tahun). Sebanyak 48 karya anak-anak yang saya teliti berfokus pada Masa Pra-bagan yaitu rentang usia 4-7 tahun, anak pada masa ini sudah mulai bisa mengendalikan tangannya, mulai membandingkan karya dengan objek sesungguhnya, dan ikatan emosi dengan apa yang hendak digambarkannya. 


Anak-anak yang dikategorikan pada masa ini juga sudah mampu membuat bentuk mobil, rumah, tangga, pohon, hewan peliharaan, bunga, awan dan garis bundar yang dikerjakan berulang. Usia 4-7 tahun juga baik untuk distimulasi kreativitasnya, terutama apabila diberi kebebasan menggambar atau sekadar mengunjungi pameran seni untuk menambah pengetahuan dan pengalamannya.


ARTJOG dan Exhibition Tour for Kids

 

Sesampainya di ARTJOG dengan bekal pengalaman 6 tahun yang lalu itu, saya mempersiapkan diri untuk segera mengikuti tur dan berbaur dengan ibu-ibu yang menemani anaknya. Rasanya seperti de javu, dengan banyaknya anak-anak yang lari sana sini, orang tua yang selalu mengawasi dan guru-guru yang sibuk mencatat kehadiran muridnya. 


Beberapa jam sebelum tur dimulai, saya  transit di kantor panitia ARTJOG dan berkenalan dengan pemandu tur yaitu Desra dan Yoga. Desra Dananjaya sendiri merupakan founder Kids Art Exhibition Yogyakarta, aktif di workshop seni dan parenting. Sama halnya dengan Hardiansyah Yoga Pratama, lulusan Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, aktif menjadi seniman teater boneka di Papermoon Puppet Theatre dan pendidik. Menurut Sarah, salah satu panitia program exhibition tour for kids, “Pemilihan dua pemandu tur ini karena berpengalaman dalam sekolah formal dan informal, mampu mengolah konten serta berdialog dengan anak-anak menggunakan bahasa yang mudah mereka pahami” ungkapnya. Desra dan Yoga juga dianggap mampu mengukur inklusivitas dalam hal anak yang nantinya menjadi bahan evaluasi untuk rancangan ARTJOG  tahun ini dan tahun depan. 


Sebagaimana agenda utama dalam ARTJOG MMXXII: Arts in Common - Expanding Awareness, memberikan perhatian pada kesenian yang mendukung inklusivitas dengan seleksi kuratorial, dan perancangan program-program edukasinya mencakup spektrum yang selama ini eksis di luar arus utama seni rupa kontemporer Indonesia, termasuk seni yang dipraktikkan oleh lingkaran-lingkaran anak-anak, remaja dan seniman-seniman difabel. Pihak ARTJOG sendiri merasakan antusiasme yang cukup tinggi, dilihat dari 70 peserta yang mendaftar dari seluruh Indonesia hingga akhirnya terpilih 14 seniman anak yang berusia 6 hingga 18 tahun. 


Exhibition tour for kids yang diselenggarakan ARTJOG sekaligus perayaan Hari Anak Nasional setiap 23 Juli. Terdapat dua kelompok yang akan mengikuti tur kali ini, yaitu  Eko Nugroho Art Class (ENAC) dan Rumah Ramah. Anak-anak yang dibawa sebanyak 40 orang dengan rentang usia 4 sampai 12 tahun. Sebelum memasuki ruang pameran, pemandu tur memisahkan dua kelompok ini dan memberi jeda masuk 5 menit. Desra memandu anak-anak dari ENAC  dan Yoga bersama Rumah Ramah.


Membawa anak-anak ke ruang pameran besar memiliki tantangan tersendiri. Bagaimana tidak? karya-karya yang ada di dalam ruang pameran tidak semuanya bisa diakses oleh anak di bawah umur dengan diberi label 17+, ada pula karya yang sama sekali tidak untuk disentuh. Sedangkan publik tentu mengetahui anak-anak usia mereka memiliki rasa penasarannya sangat tinggi, oleh karena itu dua pemandu membuat kesepakatan kepada masing-masing kelompok yang mereka bawa. Jenis kesepakatannya adalah melarang memegang karya yang tidak diizinkan untuk disentuh.


Saat masih di luar ruang pameran, salah satu anak dari Rumah Ramah cukup menonjol dibanding anak-anak lainnya yaitu Daunbumi Purbandono. Daun sendiri merupakan salah satu seniman termuda di pameran ARTJOG tahun ini, yang juga anak dari seniman fotografi Angki Pu. Usianya baru memasuki 7 tahun dan punya keberanian untuk berbicara di depan publik. Sembari menunggu giliran masuk, Daun diberi pertanyaan oleh Yoga mengenai kesepakatan masuk ruang pameran. “Kalau mau main, kamu lihat dulu, kamu belum bisa mainkan, masih kecil,” ungkap Daun sambil terbata-bata. Satu hal yang menarik dari kelompok Rumah Ramah ini, mereka menggunakan Bahasa Inggris saat berinteraksi satu sama lain.


Pukul 16.15 akhirnya saya, panitia program dan pemandu tur memasuki ruang pameran. Tidak ingin tertinggal momen yang berharga ini akhirnya saya mengikuti kelompok pertama dari ENAC. Seniman remaja pertama yang dikunjungi adalah karya milik Nadindra Danish (14) yang berjudul “Working Feed #1-6.” Karya ini memperlihatkan foto-foto kaki kuda yang tampak rusak dan luka. “Siapa yang tau lokasinya ini di mana?” Tanya Desra, “Aku tau, Maliobolo” jawab seorang anak. Anak-anak ini mengaku sedih melihat foto kaki kuda yang terluka.


Dari keseluruhan lantai satu, anak-anak tampak senang dengan karya Dwi Tunggal yang berjudul “Borobudur.” Ruang pameran ini sendiri terdiri lukisan yang akan bercahaya di dalam gelap, “Wow, ini glow in the dark” kata mereka. Arya dan Geva saat saya tanya dalam waktu yang berbeda juga berpendapat hal yang sama, kata mereka karya ini sangat mereka sukai. Begitu juga saat di ruangan ba(WA)yang yang menampilkan video pantomim. Karya ini menampilkan karya dari komunitas difabel tuli dan dengar. Dua bean bag yang tersedia langsung jadi rebutan, anak-anak diajak menonton video pantomime sambil belajar tentang gestur pemainnya. Anak-anak dijelaskan bagaimana karya ini bisa terbentuk dan ternyata respon mereka tak terduga, berlomba-lomba menjawab setiap gerakan yang sedang ditanyakan oleh pemandunya.


Meskipun dibantu oleh panitia dan guru. Ada saatnya pemandu tur tampak kewalahan dengan anak- anak yang terlalu aktif, sulit diajak bekerja sama, dan tidak mudah untuk selalu diawasi pergerakannya. Terutama saat beranjak ke karya milik Tempa “Cosmic Patterns” dengan karya potongan kayu sebagai wahana bermain dan berkreasi layaknya puzzle. Anak-anak sibuk bermain hingga lupa waktu, beberapa di antaranya ingin menaiki dan bersandar pada karya besar yang tidak boleh dimainkan. Namun ada saatnya mereka fokus dan banyak bertanya, seperti saat melihat karya Bintang Tanatimur “Excuse Me.” Tanpa ditanya, anak-anak ini langsung sadar sampah-sampah yang digunakan pada karya Bintang sering mereka lihat di rumah, seperti bekas bungkusan McDonald’s.


“Mbak tadi sempat pindah tur ke kelompok Rumah Ramah ya, apa perbedaannya?” kata Yoga kepada saya. Saya sendiri merasa anak-anak Rumah Ramah lebih tenang, mudah diajak kerja sama dan interaktif saat ditanya, meskipun saya tidak mengikuti mereka dari awal tur. Saya bisa merasakannya perbedaanya saat sama-sama di  ruang ba(Wa)yang dan karya Daun yang berjudul “Stamp!Stamp!Stamp.”


Daun sendiri masih tetap menjadi anak yang paling mendapat banyak highlight dibanding anak-anak lainnya, Ia tampak terbiasa berbicara di depan umum dan tidak malu-malu layaknya anak seumurannya. “Tidak boleh stamp di meja ya” kata Daun saat diminta menjelaskan karyanya. Tidak bisa berlama-lama karena banyak pengunjung lainnya, akhirnya anak Rumah Ramah berfoto bersama dan melanjutkan ke karya selanjutnya.


Saat memasuki lantai dua, saya mengamati bagaimana pada pemandu tur ini menjelaskan karya seni dengan bahasa yang mudah anak-anak pahami dan tidak terlupa terselipkan edukasi seni di dalamnya. Misalnya pada karya milik Nesar Ahmad “Eternal Waiting,” anak-anak diminta untuk mengidentifikasi, apakah karya ini merupakan lukisan atau foto. Begitu juga di karya Anang Saptoto “Seni, Sayur, Segar #3” dengan memberikan pertanyaan tentang nama buah dan sayuran, lalu edukasi bunyi dan musik di karya Timoteus Anggawan Kusno “Ghost Light” yang memperlihatkan video bermain alat musik dengan menggunakan benda-benda di sekitar.


Dilanjutkan ke lantai tiga pada karya seniman Mulyana x Parti Gastronomi “Bento Please Cheers Me Up!” anak-anak diajak untuk menyamakan video dengan instalasi rajutan makanan yang berada di depan mereka. Begitu juga memberi edukasi tentang seni patung dan toleransi pada karya “Sailor Moonah #2” oleh seniman Alfiah Rahdini. “Kartun apa ya ini?” tanya Yoga kepada anak-anak Rumah Ramah. Mereka tidak menjawab, merasa tidak asing dengan tokohnya, namun lupa nama. Wajar saja, karena tokoh kartun itu dulu mungkin tontonan Ayah dan Ibunya. “Kenapa ya Sailor Moonah pakai hijab?” tanya Yoga lagi, sayangnya tidak ada jawaban, mungkin karena anak-anak ini sudah lelah berkeliling tiga lantai.


Selesai sudah satu jam tur di ruang pameran ARTJOG. Selagi bersama-sama istirahat, saya mengambil kesempatan untuk bertanya pada salah satu orang tua. Menurut Yola, exhibition tour ini menarik untuk mengedukasi anak-anak tentang seni, dan ini saat yang tepat untuk memasuki ruang pameran tanpa rasa canggung karena bersama orang tua lainnya. “Seni itu gak melulu soal musik, Geva senengnya main drum,” ungkap Yola selaku Ibunya Geva, kelompok Rumah Ramah. Meskipun sudah diberi teaser tentang apa itu ARTJOG dan jenis pamerannya, ternyata banyak juga yang belum mengetahui perhelatan besar seni ini, begitu juga dengan Ibu Geva yang sedang saya ajak ngobrol.



Pameran Ramah Anak di Jogja 


Membahas tentang pameran anak di Jogja tentunya menjadi sebuah refleksi kembali bagi pengelola dan orang dewasa. Pameran dengan partisipasi anak namun tidak dikunjungi  oleh anak-anak tampaknya sudah hal biasa, semisalnya ada dan ramai, pasti saat pembukaannya saja. Hal ini juga disepakati Desra, pameran anak di Jogja ada dan banyak, namun melibatkan anak dalam perhelatan seni sebesar ARTJOG baru pertama kalinya. Semisal ada juga diselenggarakan oleh pihak sekolah/sanggar atau tempat les menggambar dengan akses publik terbatas.


Kelas seni anak di Jogja bisa dikatakan sudah menjamur di mana-mana, dibandingkan kota lainnya. Eko Nugroho Art Class, Art For Children Taman Budaya Yogyakarta, Museum Tino Sidin, Sekolah Gajah Wong Affandi dan masih banyak lagi. Keterlibatan Dinas Kebudayaan DIY pada pameran seni anak di Jogja juga terlihat dalam Pameran Lukis DIY-Kyoto yang menampilkan karya anak-anak dari dua negara dengan venue di Bentara Budaya. Baru-baru ini di venue yang sama juga terdapat Pameran Seni Rupa Holistik "Para Rupa" untuk anak-anak berkebutuhan khusus. 


Menurut saya, apa yang dikerjakan ARTJOG hari ini untuk melibatkan anak-anak dan kelompok penyandang disabilitas sangat menarik untuk diteruskan oleh penyelenggara atau pihak lain, demi memberi ruang partisipasi anak dalam berkarya seni dan edukasi. Seni rupa ramah anak tentunya akan menjadi kabar baik bagi semua orang yang terlibat dalam kesenian, bagaimanapun orang-orang yang hidup dalam ekosistem seni harus diregenerasi, bermula dengan edukasi seni melalui eksibisi tur ini.