Pameran The Room is Bigger Than It Looks menggali ketegangan dalam zaman Antroposen—era di mana manusia secara drastis mengubah sistem Bumi. Dengan mengacu pada gagasan Donna Haraway, pameran ini tidak menawarkan solusi utopis, melainkan mengajak kita untuk “tinggal dalam keruwetan”: menerima ketidakpastian, kontaminasi, dan ketergantungan sebagai bagian dari hidup. Praktik artistik Dabi Arnasa dan Zikry Rediansyah berpijak pada ambiguitas dan keseharian yang tampak remeh namun penuh makna.
Zikry, lewat tokoh Alex, menampilkan absurditas eksistensial dengan gaya slapstick yang jenaka dan reflektif. Ia menunjukkan bagaimana kehidupan sehari-hari bisa menjadi panggung eksistensi yang tak kalah dramatis dari mitos klasik. Sementara itu, Dabi menyuguhkan lanskap surealis yang memperlihatkan keterhubungan kompleks antara manusia dan alam. Ia mengaburkan batas antara realitas dan imajinasi, dan secara halus mengkritik dominasi manusia atas alam.
Pameran ini memperluas makna ruang—secara afektif, ekologis, dan temporal—menyiratkan bahwa apa yang tampak tertata dan sederhana, menyimpan kerumitan yang dalam. Melalui karya-karya ini, ruang menjadi entitas hidup yang menantang persepsi dan membuka pemahaman baru tentang keberadaan.