Sinema 31 adalah salah satu dari rangkaian program Pendhapa Institute yang diinisiasi oleh Pendhapa Art Space. Sinema 31 bersirkulasi pada bagaimana isu-isu seputar pendidikan dan pedagogi kritis diwujudkan dalam karya seni, terkhusus film.
“Mengalami Luka-Luka Manusia”, menjadi tajuk dari Sinema 31 edisi ketujuh ini. Edisi ini bisa dikatakan secara khusus merespon gagasan penulisan ulang sejarah yang dicanangkan oleh Kementerian Kebudayaan. Ide yang menuai banyak kecaman ini membuat kita memaknai kembali bagaimana aparatus kekuasaan bekerja mengontrol pikiran lewat label ‘sejarah resmi’. Sementara itu, melihat masa lalu perjalanan bangsa Indonesia yang berliku dan tidak selalu baik-baik saja, sepatutnya tidak sekadar nostalgia dan kerja-kerja historiografi yang seolah bebas nilai. Ia butuh kebijaksanaan, keberanian, dan yang terpenting, nurani dalam menerima dan mengakui apa yang telah terjadi. Agar tidak terulang kembali di generasi mendatang. Dua film yang dihadirkan dalam edisi ini, yaitu Hotline 1998 (Andrea Suwito, 2022), dan Shallot Salad (BW Purbanegara, 2023), mencoba melihat perjalanan manusia Indonesia sebagai bangsa yang penuh dinamika dan tragedi, mulai dari kasus pemerkosaan massal 1998 hingga tragedi kanjuruhan tahun 2022. Keduanya mengajak penonton untuk merenungkan dampak dari peristiwa-peristiwa tersebut melalui berbagai sudut pandang yaitu para relawan, korban, dan para pelaku.
Dua film ini diharapkan mampu membuka diskusi terhadap seberapa peka seharusnya kita melihat tragedi-tragedi yang menyelimuti perjalanan bangsa ini. Menjadi media belajar, pendidikan dan pengingat agar kekerasan tidak justru menjadi hal yang dirayakan dan seolah menjadi bagian dari tata kelola.