No Home, No Score, Just War and More
“Manusia membunuh karena bisa. Lalu ia sebut itu sejarah.”
Tak ada rumah. Tak ada skor. Hanya perang yang terus berlangsung.Inilah zaman di mana rumah menjadi reruntuhan sebelum pernah disebut “tempat tinggal.” Negara-negara dibangun di atas kalkulasi, bukan belas kasih. Dan perang, seperti mesin usang yang tak bisa dimatikan, terus menggerus harapan dengan presisi dan bangga diri.
Lihatlah sekeliling: Gaza, Sudan, Ukraina, Myanmar, thailand, kamboja
. Di mana-mana, peluru lebih cepat dari doa, dan lebih dipercaya daripada diplomasi. Setiap ledakan bukan hanya membunuh tubuh, tetapi juga membunuh bahasa. Apa arti
“damai” ketika lidah hanya bisa menyebutkan nama-nama korban?
Pameran ini adalah pernyataan: bahwa seni tidak akan menyelamatkan dunia, tetapi ia bisa menjadi catatan murka dari yang tak ingin diam. Setiap kanvas, tiap instalasi, adalah gugatan—bukan kepada musuh di luar, tetapi kepada kita yang terlalu sibuk mencari kenyamanan di balik penderitaan orang lain.
Perang bukan hanya tentang peluru dan darah. Ia adalah propaganda yang dikemas rapi, dijual dengan jargon patriotisme, dan dibeli dengan tubuh anak-anak. Kita hidup di dunia di mana setiap bom yang dijatuhkan disusul oleh konferensi pers yang menyalahkan korban atas kehancurannya sendiri. “Ketika dunia kehilangan skor, yang tersisa hanyalah dentang jam menuju kehancuran berikutnya.” Maka tengoklah pameran ini bukan untuk mencari harapan, tetapi untuk menatap luka tanpa berkedip.Karena hari ini, satu-satunya rumah yang tersisa adalah ingatan.
“Dan bahkan itu pun sebentar lagi akan dihancurkan.”