L’Art Pour La Vie
Memasuki tahun kedua penyelenggaraan “Lebaran Seni Rupa”, sekaligus pameran keenam sejak NING Art Space berdiri pada 2024, L’Art Pour La Vie mengajak kita meninjau kembali posisi seni di tengah kehidupan. Jika L’Art Pour L’Art menempatkan seni sebagai wilayah otonom yang berdiri sendiri, sementara L’Art Pour L’Argent mengikatnya pada logika pasar dan nilai tukar, maka pameran ini berupaya melihat seni sebagai sesuatu yang hidup di antara keduanya.
Seni lahir dari pengalaman, kerja, relasi sosial, dan kebutuhan material yang membentuk kehidupan sehari-hari. Ia bukan sekadar objek estetik yang terpisah dari realitas, namun juga tidak semata-mata komoditas yang tunduk pada mekanisme ekonomi. Dalam ruang yang cair itulah seni menemukan perannya: sebagai medium refleksi, kritik, ingatan, dan imajinasi.
Melalui karya-karya Anjastama, Bayu Widodo, I Piki Suyersa, Indo B. Satria, Marten Bayuaji, Nurrachmat Widyasena, Rama a.k.a. Daddysjokes, Restu Ratnaningtyas, Sastra Wibawa, dan Vendy Methodos, pameran ini menampilkan beragam pendekatan terhadap kehidupan yang menjadi sumber sekaligus tujuan penciptaan seni.
Alih-alih menawarkan jawaban tunggal, L’Art Pour La Vie membuka ruang dialog tentang bagaimana seni dapat tetap bebas, relevan, dan bermakna. Di tengah tarik-menarik antara idealisme dan kebutuhan praktis, seni terus hidup sebagai bagian dari pengalaman manusia itu sendiri.