7 Emerging Artist Versi JAW 2025

Rekomendasi

27-Jul-2025

Oleh Ahmad Sulton

Pergeseran sebuah masa hingga budaya dapat terindikasi dari karya-karya seni, terutama dari para seniman muda. Mereka bukan sekadar mengikuti arus, atau bahkan terbawa arus, justru mereka menunggangi arus yang dapat membawanya pada destinasi baru yang entah kapan sampainya. Siasat, strategi, hingga bahkan jurus mereka rakit dan rancang sebagai upaya eksis di derasnya arus zaman. Mereka yang berhasil "terlihat" tentu adalah orang yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungannya. Sulit disangkal, bahwa jika tidak cerdik menempatkan diri di sebuah jiwa zaman akan tergilas begitu saja, tanpa sisa untuk dikenang.

Jogja Art Weeks 2025 mencoba menggaris bawahi beberapa seniman yang penting ditilik sebagai indikasi pergeseran zaman dan budaya hari ini. Melalui tema, keteknikan, capaian, rentang usia, dipakai sebagai garis ukur untuk memposisikan seniman-seniman ini penting untuk diikuti proses artistiknya. Berikut 7 Emerging Artist versi JAW 2025:

1. Urubingwaru



(Foto: Urubingwaru)

Ekspresi sayu di raut muka para figur dalam lukisan Urubingwaru menjadi satu ciri yang sepertinya selalu diulangi. Tidak tahu apa yang hendak dibicarakan dari ekspresi itu, tapi cukup untuk membuat orang termenung sesaat. Para figur dilukiskan dengan gestur tubuh dramatical terlihat dari gerak lengan, tekukan jari, dan lirikan mata. Goresannya bernada realis-ekspresif turut membangun nuansa dari perasaan yang fluktuatif ketika berupaya menekuni sebuah rasa. Karya Urubingwaru banyak menyoal tentang sejarah, mitos dan sains. Hari ini, karya terbarunya berjudul "The World Farewell Parade" dan "Nikola Tesla and the Lost Dialogues of the Equatorial Scientist" dapat dijumpai di ARTJOG 2025 "MOTIF: AMALAN" yang juga mengantarkannya mendapat penghargaan sebagai Young Artist Award.

2. Aurora Santika



(Foto: Aurora Santika)

Aurora Santika adalah salah satu seniman representatif galeri White Space Art Asia. Karya lukis Aurora bertema dunia fantasi dan fairy, warna dalam karyanya sangat kaya. Lukisannya menyoroti tentang ironi dan kompleksitas hubungan manusia. Saat ini Aurora terlihat tengah padat mengikuti berbagai Art Fair baik sudah, sedang, maupun akan datang seperti, Art Jakarta Gardens, Affordable Art Fair Hong Kong dan ARTSUBS 2025.

3. Ilham Karim



(Foto: Ilham Karim)

Karya Ilham Karim adalah salah satu tanda seniman muda hari ini sebagai generasi digital native yang memiliki gaya visual baru atas cara hidup yang tengah dijalani. Pose-pose figur rekaannya adalah penggambaran ekspresi anak muda dalam menjalani kehidupan hari ini. Lukisan Karim sangat khas dalam mengolah maupun memakai palet warna komplementer, kelompok warna ini sering dijumpai di visual digital yang ter-negatif-kan. Sudut-sudut lain memakai palet warna RGB, membuatnya semakin terasa pengaruh kebudayaan digital yang juga menjadi inspirasi bahasa visual Karim seperti kemudian dalam kanvasnya muncul visual glitch digital, background png, nuansa liminal digital dan sebagainya.

4. Anastasia Astika



(Foto: Anastasia Astika)

Anastasia Astika adalah sekian dari sedikit seniman sekarang yang masih percaya dan berani menekuni cat air. Di tengah produksi seniman yang kadangkali dituntut cepat Anastasia justru melambat memahami gerakan air demi pigmen warna yang merata sesuai kehendaknya. Luar biasanya, dengan cat air yang dikatakan sebagai material cukup susah dikuasai Anastasia justru tidak bermain dengan objek-objek visual gampangan dia menantang dirinya lebih jauh lagi. Lukisan cat airnya sekarang berfokus mengangkat objek visual chandelier. Keindahan susunan kaca, pantulan cahaya, pantulan warna yang berbeda-beda dilukiskan secara detail dengan cat air oleh Anastasia, membutuhkan kesabaran ekstra dan penglihatan yang peka tentunya. Tidak heran jika kemudian Mizuma Gallery menggandengnya sebagai salah satu seniman untuk Art Jakarta 2023.

5. Begok Oner



(Foto: Begok Oner)

Begok Oner adalah seniman graffiti yang berani melangkahkan kaki ke medan seni rupa kontemporer secara luas. Karya graffiti-nya menjelajahi segala kemungkinan, bahkan karya-karya terbarunya tidak membawakan graffiti secara keteknikan seperti kebiasaan graffiti pada umumnya melainkan membawakan ruang graffiti dan berbagai gejala masyarakat urban yang terekam melalui tembok-tembok perkotaan. Karyanya sekarang tengah fokus membicarakan reruntuhan arsitektur masyarakat urban dan coretan-coretan tembok di dalamnya yang berlangsung secara liar. Coretan liar di tembok perkotaan barangkali memiliki fungsi persis seperti artefak masa lampau atau juga lukisan purba di dinding goa, dan barangkali, salah satunya, poin itu lah yang coba diangkat oleh Begok ketika membicarakan reruntuhan dan coretan tembok kota. Begok juga terpilih sebagai Young Artist Nomination ARTJOG 2025 "MOTIF: AMALAN" dan Most Promising Artist UOB PAINTING 2023.

6. Faelerie



(Foto: Faelerie)

Di tengah padatnya karya lukis, instalasi, bunyi, new media, Faelerie mengambil langkah sunyi menyulam karya tapestri. Perlu diakui, karya tapestri di ekosistem seni rupa Indonesia berstatus langka, tapi di lain sisi juga diminati. Karya tapestri Faelerie bukan kerajinan yang "memperindah", melainkan sebuah ekspresi ketubuhan yang tercitra melalui bentuk-bentuk rajutannya. Seperti tekstur kulit manusia atau juga citra aliran darah dengan cerdas oleh Falerie diwujudkan menggunakan material benang, yang kemudian tekstur, elastis, fluid, bisa tercapai dengan sempurna. Faelerie tahun ini mendapatkan penghargaan Young Artist Award ARTJOG 2025 "MOTIF: AMALAN".

7. Catur Nugroho



(Foto: Catur Nugroho )

Catur Nugroho adalah seniman muda yang memiliki etos eksperimen di setiap proses artistiknya. Akhir-akhir ini karyanya banyak menjelajahi warna biru, terutama biru yang tercipta dari karbon dan cyanotype. Kesan biru, pilu, seakan sebagai ironi yang hendak dimunculkan sebagai ekspresi artistiknya. Karyanya sering mengangkat tentang isu ekologi dan hubungan manusia dengan alam seperti dalam series karyanya Landscape Series (Human Reflection with Nature). Catur tahun kemarin mendapatkan penghargaan Young Artist Award sebagai Karya Terbaik dari pameran "Tjoekoep! Tjoekoep! Tjoekoep!" Yang terdapat Jim Supangkat sebagai salah satu Juri di dalamnya.