"Bukan, yang ini lebih otentik, punya cerita sejarah juga. Dan yang lebih penting, rasanya nggak manis doang."
Kalimat ini meluncur begitu saja dari Andy Susanto ketika kami menyebut salah satu warung sate kambing yang sangat populer di Solo. Andy mengarahkan kendaraan menuju Sate Kambing Putra Tambak Segaran di kawasan Punggawan. Ternyata, tidak ada antrian mengular, tidak ada papan besar yang mengklaim dirinya sebagai "legendaris". Bahkan warung itu tampak lebih lengang dibanding berbagai tempat makan yang belakangan ramai berseliweran di media sosial.

Baru setelah duduk dan menunggu pesanan datang, saya memahami Andy memaknai makanan lebih dari soal mengenyangkan perut. Kuliner adalah caranya mengenalkan dan menceritakan sebuah kota. Setiap warung menyimpan sejarah, setiap resep membawa ingatan, dan setiap rasa menjadi cara lain untuk mengenali Solo Raya. Pada dasarnya kami memang tidak meragukan cita rasa seorang Andy Susanto dalam menilai makanan. Keyakinan yang semakin tidak terbantahkan ketika kami mulai menyantap menu-menu pilihannya, mulai dari sate kambing, sate buntel, tongseng kambing, dan seporsi sumsum. Sebelum seluruh makanan sampai di meja, kami sempat berbincang berbagai hal terkait latar belakangnya yang erat dengan dunia kuliner, khususnya area Solo Raya.

Baginya, seluruh makanan harus enak. Enak dalam kriteria Andy adalah makanan yang rasanya balance alias seimbang. Maka dia cenderung kurang menyukai makanan yang memiliki rasa dan beraroma tajam seperti pete, atau makanan-makanan yang cenderung menonjolkan pedas saja. Andy membahasakan makanan yang balance sebagai makanan yang rasanya ‘bulat’ ketika masuk ke mulut. Andy yang punya rutinitas melakukan perjalanan Solo - Semarang setiap pekan, menceritakan sebuah tempat makan favoritnya di daerah Boyolali, yang bernama Warung Mbah Ban. Andy kesulitan menunjukkan koordinat tepat posisi Warung Mbah Ban di Google Maps ketika kami menanyakan lokasi persisnya. Menurut Andy, seluruh makanan di Warung Mbah Ban enak, terutama nasi sambal tumpang, ayam bakar, opor ayam, dan aneka sayur ramesan, yang selalu jadi pilihan utama. Kata Andy, biarlah warung ini selamanya tidak ada di google maps. Bukan karena dirinya tidak ingin Warung Mbah Ban semakin terkenal dan ramai. Tapi Andy meyakini satu hal, bahwa baginya warung makan akan tetap terjaga kualitasnya jika masih dipegang langsung oleh pemilik, tidak menyerahkan sepenuhnya pada chef atau pegawainya. Dengan cara ini pula Mbah Ban masih memasak sendiri seluruh menu makanannya.

Cara Andy menceritakan Warung Mbah Ban sangat menarik karena di tengah kebiasaan mencari tempat makan melalui algoritma, bintang penilaian, atau video ulasan, Andy memilih percaya pada metode yang lebih sederhana namun menubuh, yaitu ingatan. Tempat-tempat makan terbaik, menurutnya, sering kali hidup dari cerita yang berpindah dari satu lidah ke lidah lain. Dari satu kawan ke kawan yang lain. Benar bahwa popularitas bisa mendatangkan pelanggan dan kekayaan, tetapi belum tentu bisa menjaga rasa.
Karena itulah Andy lebih menyukai warung-warung yang masih dimasak langsung oleh pemiliknya. Bukan semata romantisme usaha keluarga, adanya hubungan yang tidak terputus antara pembuat makanan dan makanan menjadi elemen penting dalam dunia gastronomi. Selama sang pemilik masih mencicipi masakannya sendiri, Andy percaya kualitasnya akan tetap terjaga. Dengan keyakinan ini pula Andy menjadi lebih gemar makan di kaki lima atau tempat makan yang relatif lebih sederhana, karena akan tampak bagaimana pemiliknya jauh lebih memiliki sense of belonging. Hal yang menurut Andy sangat penting dalam menjaga kualitas makanan, karena lidah pemilik masih mengontrol setiap rasa dari menu yang dipesan oleh pelanggan.

Inilah yang menjadi salah satu alasan Andy memilih mengajak kami makan di Sate Kambing Putra Tambak Segaran. Meski sudah lanjut usia, pemilik warung sate ini masih memasak sendiri seluruh menu yang dibuat. Dia adalah generasi kedua, anak kedua dari Liem Hwa Yoe. Pilihan Andy membawa kami ke Putra Tambak Segaran yang juga karena cerita sejarah akhirnya terjawab. Di dinding warung terpampang kisah tentang Liem Hwa Yoe, sosok yang menciptakan sate buntel di Solo pada 1948. Dari kisah ini Andy menunjukkan bahwa makanan selalu membawa riwayatnya sendiri. Di Solo, satu porsi sate buntel menyimpan cerita bagaimana sebuah teknik memasak lahir, diwariskan, lalu bertahan hingga hari ini.

Ketika seluruh hidangan tiba di meja, kami pelan-pelan memahami apa yang dimaksud Andy dengan rasa yang ‘bulat’. Tidak ada satu bumbu yang saling mendominasi. Manis, gurih, rempah, dan aroma kambing hadir dalam kadar yang saling mengimbangi. Bahkan bagian hati dan ginjal yang kerap dihindari sebagian orang pun terasa bersih tanpa bau prengus. Tongseng menjadi penutup yang menyegarkan, sementara seporsi sumsum dengan kuah gulai mengakhiri makan siang itu dengan tenang. Sulit memang menjelaskan rasa ‘bulat’ hanya lewat kata-kata. Tetapi setelah makan siang itu, kami mulai memahami bahwa makanan enak yang dimaksud Andy ternyata bukan sekadar lezat. Tetapi bagaimana keseimbangan rasa yang tidak berusaha mencuri perhatian sendiri.
Mendengarkan Andy bercerita tentang makanan, membuat kami menyadari bahwa tempat makan yang ia ingat lalu merekomendasikannya pada kawan, menjadi caranya memperlihatkan ‘peta rasa’ Solo Raya. Peta yang bukan disusun berdasarkan rating atau jumlah pengunjung, tetapi lewat relasi dengan para pemilik warung, serta ingatan bagaimana sebuah tempat menjaga dan mempertahankan kualitasnya. Lebih jauh, selain sate kambing, Andy menyebut kuliner-kuliner seperti soto, selat, bestik, hingga gudeg, memiliki citarasa yang tidak dapat ditemukannya diluar Solo. Karena itu pula Andy mengaku tidak terlalu tertarik mengejar tempat makan yang sedang viral, atau berbintang sempurna di platform ojek online. Andi adalah penikmat kuliner yang mencari konsistensi, tentang bagaimana sebuah warung mampu mempertahankan rasa selama bertahun-tahun, meski kota dan kehidupan di sekitarnya terus berubah. Andy tidak segan mengulang-ulang menu makanan yang sama jika sudah jatuh hati padanya.
‘Sampai dia berubah, aku akan terus pesan menu itu’, pungkas Andy.

Ada alasan mengapa Andy begitu senang mengajak kawan-kawannya makan. Rekomendasi kuliner adalah caranya memperkenalkan cara lain mengenali Solo Raya, bukan melalui bangunan bersejarah, museum, destinasi wisata, atau spot-spot viral. Andy memilih jalan lidah dengan menunjukkan bagaimana orang-orang yang masih menjaga resep, merawat rasa, dan memasak dengan ingatan mereka sendiri.
Lidah Andy telah berkelana ke berbagai sudut rasa. Pengembaraan yang membuatnya ingin mengajak orang-orang turut merasakan pengalaman serupa. Andy mengaku senang ‘melayani’ lidah kawan. Ada kepuasan baginya ketika orang merasa puas pada makanan pilihannya.
‘Andy approve’, kalau kata teman-temannya yang terpuaskan oleh rekomendasinya.