
Ridwan lahir dan besar di Sidorejo. Namun, seperti banyak warga lainnya, ia tidak pernah benar-benar mengetahui bahwa desanya menyimpan manuskrip-manuskrip kuno yang berisi pengetahuan tentang pawukon, primbon, hingga catatan mengenai kehidupan agraris masyarakat setempat. Pengetahuan itu baru ditemuinya kembali ketika Ridwan mengambil filologi sebagai konsentrasinya di Universitas Gadjah Mada. Pada 2018, saat menyusun skripsi, Ridwan mulai menelusuri keberadaan naskah-naskah tersebut. Dari penelitian itulah ia menyadari bahwa Sidorejo menyimpan jejak pengetahuan yang selama ini nyaris terlupakan.

Kesadaran itu kemudian berkembang menjadi gagasan untuk menghadirkan sebuah ruang yang dapat merawat sekaligus mengenalkan kembali kekayaan tersebut kepada masyarakat. Pada 2022, Museum Pawukon resmi didirikan sebagai bagian dari pengembangan Desa Wisata Sidorejo. Namun sejak awal, orientasi museum ini bukan semata menjadi destinasi wisata, melainkan ruang pelestarian budaya yang tetap hidup bersama warganya.
Di dalam museum, kami melihat replika manuskrip, berbagai artefak yang berkaitan dengan tradisi agraria, hingga cerita tentang hubungan masyarakat Sidorejo dengan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun. Berbagai temuan itu juga memperlihatkan bahwa Sidorejo pernah menjadi salah satu tempat produksi pengetahuan dalam bentuk pembuatan naskah, sekaligus memiliki tradisi pertanian yang kuat. Bagi Ridwan dan tim pengelola museum, benda-benda tersebut adalah pintu masuk untuk memahami sejarah kampung mereka sendiri. Ridwan pun turut mengajak kami mengelilingi kampung melihat sumber-sumber mata air yang masih asri.

