MUSEUM PAWUKON: MENGAJAK KEMBALI MENGENAL DIRI

Sosok

25-Jul-2026

Oleh Hardiwan Prayogo

Museum Pawukon di Sidorejo, Kulonprogo, adalah sebuah rumah sederhana yang menyimpan lebih dari sekadar koleksi naskah kuno. Siang itu, kawan-kawan dari Museum Pawukon menyambut kami sambil memperlihatkan satu per satu replika manuskrip pawukon, artefak pengetahuan agraria warga Sidorejo, hingga aktivitas yang kini rutin dilakukan bersama anak-anak belajar sastra Jawa. Semua ini bermula dari rasa penasaran seorang warga terhadap kampung tempat ia sendiri dilahirkan. Dia adalah Ridwan Rustamaji.




Ridwan lahir dan besar di Sidorejo. Namun, seperti banyak warga lainnya, ia tidak pernah benar-benar mengetahui bahwa desanya menyimpan manuskrip-manuskrip kuno yang berisi pengetahuan tentang pawukon, primbon, hingga catatan mengenai kehidupan agraris masyarakat setempat. Pengetahuan itu baru ditemuinya kembali ketika Ridwan mengambil filologi sebagai konsentrasinya di Universitas Gadjah Mada. Pada 2018, saat menyusun skripsi, Ridwan mulai menelusuri keberadaan naskah-naskah tersebut. Dari penelitian itulah ia menyadari bahwa Sidorejo menyimpan jejak pengetahuan yang selama ini nyaris terlupakan.




Kesadaran itu kemudian berkembang menjadi gagasan untuk menghadirkan sebuah ruang yang dapat merawat sekaligus mengenalkan kembali kekayaan tersebut kepada masyarakat. Pada 2022, Museum Pawukon resmi didirikan sebagai bagian dari pengembangan Desa Wisata Sidorejo. Namun sejak awal, orientasi museum ini bukan semata menjadi destinasi wisata, melainkan ruang pelestarian budaya yang tetap hidup bersama warganya.


Di dalam museum, kami melihat replika manuskrip, berbagai artefak yang berkaitan dengan tradisi agraria, hingga cerita tentang hubungan masyarakat Sidorejo dengan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun. Berbagai temuan itu juga memperlihatkan bahwa Sidorejo pernah menjadi salah satu tempat produksi pengetahuan dalam bentuk pembuatan naskah, sekaligus memiliki tradisi pertanian yang kuat. Bagi Ridwan dan tim pengelola museum, benda-benda tersebut adalah pintu masuk untuk memahami sejarah kampung mereka sendiri. Ridwan pun turut mengajak kami mengelilingi kampung melihat sumber-sumber mata air yang masih asri.




Karena itu, Museum Pawukon berupaya untuk tidak berhenti sebagai ruang memajang dan menyimpan. Di waktu-waktu tertentu, museum berubah menjadi ruang belajar sastra Jawa bagi anak-anak, tempat berlangsungnya tadarus macapat, diskusi budaya, hingga berbagai kegiatan yang mengajak warga kembali berjumpa dengan pengetahuan lokalnya. Aktivasi semacam ini menjadi cara agar museum tidak terjebak sebagai ruang yang hanya mengawetkan benda, tetapi juga merawat praktik, percakapan, dan ingatan yang terus diwariskan antargenerasi.



Selama kurang lebih 4 tahun berjalan, Museum Pawukon menjadi salah satu program unggulan Desa Wisata Sidorejo. Berbagai aktivitas seperti peracikan jamu berdasarkan pembacaan pawukon, yoga, meditasi, dan pengenalan tanaman obat lokal mulai dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman berkunjung. Bagi Ridwan, semua itu bukan sekadar mengikuti tren